Untuk yang belum pernah berkunjung ke Kuala Lumpur, buang jauh-jauh pikiran bahwa kota ini sama saja dengan Jakarta. Mantan ibukota negeri Malaysia ini, ternyata sudah jauh lebih maju dibanding kota-kota di Indonesia. Keputusan pemerintah memindahkan ibukota negara dari Kuala Lumpur ke Putrajaya setidaknya merupakan langkah tepat untuk mencegah ledakan populasi seperti di Jakarta. Itulah kesan pertama saya ketika jalan-jalan ke Kuala Lumpur, 8-11 April 2011 yang lalu.
Sebenarnya, tujuan utama saya mengunjungi Kuala Lumpur adalah untuk menyaksikan secara live para pembalap F1 beradu jet darat di sirkuit Sepang. Saya berangkat dari Bandung, dan ayah saya (yang juga doyan F1) berangkat dari Balikpapan. Kami berdua bertemu di LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Rupanya bandara Kuala Lumpur terbagi dua. Satu bernama LCCT, dan satunya lagi KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Mungkin mirip Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta yang terpisah cukup jauh, namun masih dalam satu komplek bandara. Berhubung saya yang dari Bandung naik maskapai AirAsia, begitu pula ayah saya yang dari Balikpapan, maka kami sama-sama mendarat di LCCT. Maklum, judulnya saja low cost. Kami memang sudah berburu tiket-tiket promo AirAsia jauh hari sebelum race dimulai. Bahkan karena mendapat early bird, kami mendapat potongan 50% untuk tiket F1 yang cukup mahal itu. Intinya, kami melakukan perjalanan yang murah-murah karena memang sudah direncanakan secara matang jauh hari.
Hari pertama tiba di KL, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang, hotel tempat kami menginap. Butuh sekitar 2 jam perjalanan dari bandara menuju hotel. Padahal, sirkuit Sepang sendiri terletak di dekat bandara. Rupanya sirkuit dan bandara diletakkan jauh sekali dari pusat kota. Barangkali untuk mencegah bising dan kemacetan di sekitar kota bila ada event besar semacam F1 atau MotoGP.
Ternyata KL cukup padat. Kemacetan, yang meskipun masih bisa ditolerir, terjadi di perjalanan menuju hotel. Namun sedikit berbeda dengan kota-kota di Indonesia, jarang sekali ditemui sepeda motor di sini. Kebanyakan orang bepergian dengan mobil atau kendaraan umum. Mungkin memang kota-kota di negara maju ditakdirkan untuk tidak bersepeda motor. Padahal di Indonesia, sepeda motor merupakan solusi ampuh untuk mengatasi macet, karena bisa nyelip-nyelip di antara mobil atau bahkan naik lewat trotoar. Dan jika bersenggolan dengan kendaraan yang lebih besar, sepeda motor selalu berada di pihak yang benar
Oh, ternyata public transport di KL sudah sangat maju. Jauh melebihi busway di Jakarta, yang dahulu sebelum dibangun saja malah diprotes banyak pihak. Mungkin inilah sisi baik sistem kepemerintahan di Malaysia, yakni monarki konstitusional. Kalau sang raja mau apa, ya harus ditaati rakyatnya. Raja minta dibangun sirkuit besar, dibangunlah sirkuit Sepang. Raja minta monorail, dibangunlah monorail dalam kota. Berbeda dengan sistem demokrasi di sini. Pemimpin mau apa harus selalu dikaji bareng-bareng dan ujungnya malah tidak selesai-selesai (seperti pembangunan monorail di Jakarta). Memang benar sih, kedua sistem kepemerintahan itu punya sisi positif dan negatifnya. Namun saya pikir, baru Amerika saja yang berhasil menjalankan demokrasi yang benar (barangkali karena taraf hidup kita dan mereka berbeda jauh ya). Sisanya, negara-negara miskin lainnya, jika ingin bangkit ya memang masih memakai sistem kerajaan. Sudah sedikit terbukti dengan Malaysia yang merdeka sekitar sepuluh tahun setelah kita, kini sudah sepuluh langkah di depan kita. Jangan-jangan Thailand, atau bahkan Kamboja, segera menyalip kita juga.
Oke, back to topic. Di KL, ada yang namanya KL Central. KL Central merupakan stasiun berbagai macam alat transportasi umum. Mulai dari bus, kereta dalam kota , kereta luar kota, monorail, singgah di stasiun terbesar di KL ini. Stasiun seperti ini memang syarat mutlak sebagai sarana transport yang murah bagi backpacker seperti saya. Karena tidak mungkin para turis pergi ke mana-mana naik taksi. Selain ongkosnya mahal, tidak ada kesan tersendiri jika naik taksi. Terlihat begitu mudah. Contohnya adalah akses menuju SIC (Sepang International Circuit). Dengan kereta kemudian disambung naik bus, pulang pergi hanya RM25 (paket khusus F1). Sedangkan jika naik taksi, sekali jalan RM120. Selain mahal, taksi pasti menjumpai macet yang tidak karuan karena puluhan ribu manusia memadati sirkuit, dan tidak sedikit yang naik kendaraan pribadi.
Tentunya saya tidak mau melewatkan begitu saja liburan di KL ini hanya untuk melihat F1. Di hari ke-dua, kami berangkat pagi-pagi untuk naik ke Twin Tower. Harus pagi benar untuk naik ke jembatan menara kembar yang menjadi simbol negara Malaysia ini. Antrean turis yang begitu panjang, membuat jam 9 pagi tiket sudah habis. Karena kami benar-benar niat, kami rela antre sekitar 2 jam untuk mendapatkan tiket. Itu pun kami baru mendapat giliran naik 3 jam setelah mendapat tiket. Meskipun pada akhirnya ketika tiba di atas hanya untuk foto-foto, namun ini merupakan pengalaman pertama melihat KL dari ketinggian, cukup dengan RM10 per orang. Dan juga perjuangan setelah melewati proses antre berjam-jam.
Selepas dari Twin Tower, rencananya kami akan melihat babak kualifikasi F1. Namun karena jaraknya sangat jauh, kami sudah tidak sempat lagi karena menghabiskan terlalu lama di Twin Tower. Jadilah kami pergi ke menara lainnya, yaitu KL Tower. Jika Twin Tower merupakan gedung multifungsi, ada mall, hotel, maupun kantor, KL Tower merupakan menara khusus komunikasi yang sekaligus dijadikan objek wisata. Kami juga menyempatkan untuk naik ke puncak, kali ini dengan biaya yang agak mahal, yaitu RM38. Setibanya di puncak, setiap pengunjung diberi headset dan video player berukuran kecil, berfungsi sebagai tourguide maya ketika berada di atas. Menariknya lagi, di lantai dasar ternyata ada kebun binatang mini dan simulator F1. Tanpa berpikir panjang, setelah naik ke puncak kami berdua me turun untuk menjajal simulator F1 dan mampir ke kebun binatang mini untuk foto dengan burung kakatua.

Malam datang, kami pun tiba di hotel. Karena esoknya adalah raceday, saya meninggalkan ayah saya yang kelelahan di hotel sendiri dan mulai berburu pernak-pernik F1 di pasar terdekat. Tidak seperti yang saya duga, ternyata koleksi barang berbau F1 minim sekali. Setelah perlahan-lahan saya selidiki, ternyata pasar di sini tidak berani menjual barang-barang bajakan. Berbeda ketika nonton pertandingan AFF Cup di Stadion GBK Jakarta. Pedagang tanpa malu-malu menjual atribut bajakan timnas Indonesia di segala penjuru. Hah, Indonesia memang surga bagi barang bajakan.
Meskipun begitu, dengan berbagai macam trik negosiasi saya berhasil mendapatkan topi dan kaca mata Ferrari, tim jagoan saya. Pedagang yang saya ajak “nego” itu akhirnya mengeluarkan barang-barang dagangan bajakannya dari sebuah tempat rahasia, sembari celingak-celinguk kanan-kiri mengawasi ada pihak keamanan atau tidak. Ya, lagi-lagi saya harus menegaskan bahwa negeri ini sudah sepuluh langkah di depan kita. Salah satu tandanya yaitu menghargai hak milik orang lain. No piracy please, meskipun saya tetap nakal membeli barang bajakan di sana, hehehe.
Tiba di inti perjalanan saya, menonton F1. Bersyukur sekali karena kami membeli paket transportasi F1 yang murah itu, karena macetnya lalu lintas dalam kota. Pertama kami naik kereta dari KL Central, transit di Nilai, kemudian naik bus. Sepanjang sejam perjalanan di kereta, saya berdiri terus. Rupanya momen F1 menjadikan KL mendadak diwarnai orang-orang berkulit putih. Tak terkecuali kereta yang kami naiki itu.
Setibanya di Nilai, kami menyambung dengan bus. Buru-buru saya amankan satu tempat duduk karena lelah berdiri satu jam di kereta. Setibanya di sirkuit, terlihat antrean panjang mobil yang menanti tempat parkir yang sudah penuh itu. Di sinilah untungnya naik transportasi umum. Selain murah, tidak perlu mikir tempat parkir yang harganya mahal. Selain itu kami juga diantar ke dekat gate yang sudah dipesan. Kami membeli tiket di Gate F. Tempat ini adalah tempat nonton duduk yang termurah. Kami membeli seharga RM200 per kursi. Itu pun sudah dipotong 50% karena kami membeli tiket early bird.

Di sekitar sirkuit, sedikit sekali pedagang berkeliaran. Jangan disamakan dengan GBK ketika ada pertandingan Indonesia yang serba merah, di sini penonton tampak sangat sederhana mengenakan atribut F1. Mungkin karena terbatasnya barang bajakan, atau karena F1 bukan olahraga yang butuh suporter heboh seperti halnya sepak bola. Dan lagi-lagi tidak ada barang bajakan. Di sekitar sirkuit, hanya ada barang-barang orisinil yang harganya selangit. Beruntung saya sempat membeli atribut meski bajakan malam harinya.



Tiba di kursi penonton, kami merasa sangat beruntung membeli earplug sebelum masuk tadi. Biarpun untuk ukuran dua buah busa penyumbat telinga itu harganya cukup mahal, namun telinga kita jauh lebih mahal harganya. Bising yang dihasilkan deru mesin F1 benar-benar memekakkan telinga. Bahkan bising jet darat ini saya rasa mengalahkan suara pesawat terbang sekalipun. Begitu mobil pertama melintas, sensasi itu baru terasa. Dua anak kecil yang menonton pun teriak-teriak sambil menutup lubang telinganya yang tanpa penyumbat itu. Orang tuanya panik dan akhirnya keluar sebentar untuk membelikan earplug ketika balapan sedang seru-serunya.
Satu lagi alat yang sangat berguna ketika menonton F1 adalah teropong. Sebelum berangkat kami sempat berdiskusi mengenai barang-barang apa saja yang sebaiknya dibawa. Saya meminta teropong, yang terbukti sangat berguna. Menonton F1 sangat berbeda dengan menonton pertandingan sepakbola. Tidak semua kejadian yang terjadi di atas trek dapat dilihat. Bahkan siapa pemimpin balapan pun tidak diketahui. Dengan teropong, kami bisa melihat layar yang menampilkan posisi para pembalap dari kejauhan. Mungkin karena bosan, tidak paham siapa pemimpin balapannya, dan siapa menyalip siapa, penonton di samping saya yang nampaknya keturunan India tertidur pulas. Setelah menyumbat telinganya, dan bersorak-sorai karena mobil Force India melintas, dia terlelap. Teman-teman di sebelahnya mainan HP dan malah sibuk sendiri tanpa mempedulikan balapan.
Sebenarnya balapan sore itu cukup seru. Karena tidak melihat televisi, saya kebingungan mengapa pembalap melakukan pitstop berulang kali. Rupanya cuaca tropis di sirkuit membuat ban para pembalap cepat aus. Saya sangat berharap cuaca mendung saat itu berubah menjadi hujan. Karena jelas akan sangat merepotkan pembalap, dan membuat balapan menjadi seperti lotere. Tidak bisa ditebak siapa pemenangnya. Namun hingga balapan berakhir cuaca tetap hanya sekedar mendung, di luar prediksi yang mengatakan hujan akan menghiasi balapan hari itu. Meskipun kata orang yang menonton di televisi balapan itu diwarnai beberapa overtaking, namun kami tidak beruntung karena menyaksikan dari Gate F, yang ternyata cuma sekali saya melihat mobil saling menyalip.
Selesai balapan kami mengobrol dengan salah satu orang Indonesia di sana. Ternyata beliau mengikuti secara lengkap balapan pekan itu. Mulai dari free practice hari Jumat, qualifying hari Sabtu, dan race hari Minggu. Memang semua penonton memiliki paket tiket untuk tiga hari itu. Namun karena baru tiba hari Jumat malam, dan menghabiskan Sabtu di kota, kami hanya menonton inti balapan di hari Minggu. Dan kata orang itu, untuk hari Jumat saja para penonton bebas untuk masuk ke pitstop pembalap. Melihat para mekanik bekerja, dan merasakan sensasi bising yang jauh lebih besar. Dalam hati sedikit menyesal, karena mungkin saya bisa berfoto dengan para pembalap juga hari Jumat itu. Ah, tetapi tak apalah. Dengan RM200 saya dapat melihat lima orang juara dunia F1 melintas tepat di depan mata saya. Michael Schumacher, Fernando Alonso, Lewis Hamilton, Jenson Button, dan yang terakhir, Sebastian Vettel, sang juara balapan kali ini.