Surface Facility Optimization

June 19th, 2011 by puntadewa

Pekan kedua KP jauh berbeda dengan pekan pertama sebabnya Pak Iman Sudirman sudah on duty lagi (akhirnya kami melihat wujud asli Pak Iman, yang selama ini hanya terasa di e-mail, sms, maupun telepon). Tugas pertama datang dari Mas Stanley. Dia satu-satunya field engineer yang ada di Lawe-Lawe. Kami diberi tugas mengenai SFO (Surface Facility Optimization) yang ada di plant. Mas Stanley sepertinya merupakan tangan kanan Pak Iman, cocok. Masih muda, pintar, dan semangat.

Default proyek kami di Lawe-Lawe adalah mengenai sistem SCADA di plant. Sebagai awalan, kami diberi tugas mengenai SFO, kemudian baru menginjak pekan-pekan terakhir diberikan analisis SCADA yang masih perlu dibenahi, karena di sini sistem manual lebih dipercaya dibanding sistem otomasi.

Mula-mula, kami ditugasi untuk mengumpulkan data spesifikasi alat-alat proses di Lawe-Lawe Terminal, antara lain desain dan operating pressure, temperature, flowrate, dsb. Oooh ternyata benar jika di industri satuan-satuan seperti meter, liter, kilogram, jarang sekali dijumpai. Yang ada inch, barrel, lbs, dan satuan bukan standard lainnya. Converter sangat diperlukan di sini. Untungnya saya sempat meng-install U-Coneer di laptop, converter berbagai satuan dalam dunia engineering.

Data yang kami kumpulkan tak tanggung-tanggung banyaknya. Sulit sekali rasanya melengkapi data spesifikasi alat-alat tersebut. Perlu mondar-mandir ke process, maintenance, main office, lab, control room, sepanjang hari. Mendadak kami menjadi workaholic, puncaknya kami hampir lupa jam makan siang.

Selanjutnya, kami membuat simplified PFD (Process Flow Diagram) dari 70-an halaman data P&ID (Piping & Instrumentation Diagram). Dari PFD yang telah dibuat, kemudian dicatat spesifikasi alat yang telah dicari tadi. Nantinya akan ditentukan di mana letak bottleneck dalam suatu proses dengan membandingkan besaran design dan operating.

Jika PFD sudah selesai, dibuatlah BFD (Block Flow Diagram). Yang ini lebih sederhana lagi. Di BFD, diharapkan sesederhana mungkin sehingga orang awam pun bisa mengerti tanpa harus membaca rumitnya PFD dan P&ID. Inilah data yang diperlukan perusahaan, sejauh mana proses dapat berjalan secara efektif dan efisien. Di mana letak bottleneck, dan bagaimana mengatasinya.

Setelah data terkumpul, dilanjutkan lagi dengan pemetaan menggunakan metoda Lean Sigma. Saya sendiri kurang paham dengan apa yang dijelaskan Pak Iman. Dari asal katanya saja, lean merupakan lawan dari rich, artinya miskin, sedikit. Ibaratnya jika kita ingin pergi dari Jakarta ke Surabaya, kita langsung ambil jalur pantura, dan tibalah di Surabaya (lean). Tak perlu berputar lewat Aceh, Balikpapan, Makassar, baru tiba di Surabaya (rich). Sigma sendiri dalam bahasa statistik merupakan standar deviasi. Sejauh mana data bervariasi antara satu dengan lainnya.

Namun karena seminggu ini data belum juga terkumpul dengan lengkap, maka analisis metode Lean Sigma ini masih belum bisa dilaksanakan. Kami masih berkutat dengan PFD, BFD, dan melengkapi data yang luar biasa banyaknya.

Selain itu, masih ada tambahan tugas lain, yakni mengenai CO2 removal plant. CO2 removal ini sekarang sedang mati, mengingat gas dari Seturian Field masih cukup baik untuk dicampur dengan gas dari Sepinggan dan Yakin Field. Jika suatu saat nanti Seturian shutdown, maka mutlak CO2 removal diperlukan untuk menurunkan kadar CO2 dari Sepinggan dan Yakin.

Konsumen (Pertamina) menginginkan kadar CO2 pada dry gas sebesar 8%. Sedangkan dari Sepinggan dan Yakin menghasilkan CO2 lebih dari 8%. Tentu pencampuran dengan gas Seturian menjadi cara yang mudah, mengingat kadar CO2 Seturian yang kurang dari 8%, sehingga jika CO2 removal plant mati tidak masalah.

Analisis yang ingin kami lakukan adalah sejauh mana efisiensi CO2 removal plant jika dihitung berdasarkan output per input. Output merupakan gas yang keluar plant, sedangkan inputnya adalah semua energi yang diperlukan untuk menghidupkan CO2 removal plant. Dan ini adalah pekerjaan rumah bagi kami semua, sehingga weekend kali ini terasa sangat berharga. Berharga untuk digunakan sebagai waktu tidur sepuas-puasnya.

  • Facebook

Lawe-Lawe, Daerah Minyak Antre Minyak

June 19th, 2011 by puntadewa

Beruntung sekali saya dan dua orang teman sejurusan saya, Icha dan Wahyu bisa KP alias Kerja Praktik (atau Kerja Praktek yang benar ya???) di Chevron Indonesia Company (CICo) Balikpapan. Itu kabar beruntungnya.

Kabar kurang beruntungnya, karena kami bertiga ditempatkan di Lawe-Lawe Terminal. Artinya, kami harus naik kapal dari Balikpapan (Pelabuhan Pilot Jetty, Semayang) ke Penajam. Lalu dari Penajam naik bus ke Lawe-Lawe. Total waktu perjalanan kapal dan bus adalah sekitar 45 menit. Itu kami kerjakan tiap hari. Tiap pukul 6 pagi WITA, atau setara dengan pukul 5 pagi WIB!

Orang-orang Chevron biasa menyebut kami OJT (On Job Training). Istilah KP kurang populer di sini. Karena posisi kami yang masih OJT ini, Chevron membuat surat boarding pass kapal untuk kami jam 6 pagi, karena jam 7-nya biasa padat oleh karyawan. Dan jam 8-nya, bus Penajam-Lawe-Lawe sudah tidak beroperasi.

Untuk pulangnya, terserah. Kapal jam berapapun boleh diambil asal masih ada seat-nya. Biasa sih jam 4 sore, bus sudah menjemput kami di Lawe-Lawe untuk diangkut ke Penajam.

Dan begitulah rutinitas kami selama sebulan.

Hari pertama KP, masih belum terasa karena kami harus laporan terlebih dahulu di Main Office Chevron Balikpapan, daerah Pasir Ridge. Briefing ini meliputi penjelasan safety, pembuatan badge (keren lhoo), dan pembagian kostum perang. Kostum perang ini disebut juga FRC (saya lupa singkatannya), pokoknya baju terusan celana yang biasa dipakai orang-orang lapangan. Konon katanya baju ini tahan api. Kemudian ada safety glasses, safety helmet, dan safety shoes. Pokoknya serba safety lah. Sesuai dengan slogan Chevron yang ditempel di mana-mana, kerja dengan aman atau tidak sama sekali!

Hari kedua dan seterusnya kami langsung ke lokasi. Setelah diberi sedikit penjelasan, kami baru ngeh, kalau ternyata pengeboran Chevron itu ada di mana-mana. Saya akan sedikit menjelaskan tempat di mana kami bekerja.

Kostum Hari Pertama

Kostum Hari Pertama

Kostum Hari Seterusnya

Kostum Hari Seterusnya

Kami bekerja di South Operation, tepatnya di Lawe-Lawe Terminal. Lawe-Lawe merupakan lokasi onshore (darat). Di sini, minyak dan gas dari offshore (lepas pantai) diproses kemudian didistribusikan. Lokasi offshore sendiri adalah Yakin Field dan Sepinggan Field. Kedua offshore ini menghasilkan minyak dan gas. Ada satu lagi lokasi offshore, yaitu Seturian Field. Seturian Field cuma menghasilkan gas, namun dengan kualitas metana lebih baik dibandingkan Yakin dan Sepinggan Field. Dan hebatnya Seturian Field itu unmanned, alias tanpa awak. Pengeboran murni dilakukan dengan kontrol jarak jauh.

Karena kualitas gas yang baik dari Seturian, maka gas yang masuk ke Lawe-Lawe dicampur dengan gas yang berasal dari Yakin dan Sepinggan. Kriteria gas yang baik yaitu kandungan CO2 yang rendah, dan secara otomatis menaikkan kadar metananya. Metana (CH4) inilah yang kemudian dijual ke Pertamina.

Oh iya, saya lupa menjelaskan sebenarnya siapa-siapa saja orang di Chevron yang sudah kami temui. Pertama, ada Pak Deddy Menzano. Dia adalah bigboss untuk mengurusi masalah KP ini. Kemudian ada Pak Suparno. Dulu posisinya seperti Pak Deddy, namun sekarang sudah pindah jabatan. Tapi dia masih berbaik hati memberikan info kos-kosan untuk kami. Apalagi mendengar ada Annisa (Icha), merupakan daya tarik tersendiri sepertinya, hehehehe. Lalu ada Bu Lisa, yang sangat lemah lembut memberikan kami penjelasan tentang safety. Di Lawe-Lawe ada Pak Totok, yang merupakan back to back Pak Iman Sudirman (mentor kami yang sedang off). Dan Mas Denny yang muda dan enerjik, menjelaskan kami tentang proses. Tetapi Mas Denny kini sudah dipindahtugaskan ke laut, padahal orangnya asik banget.

FYI kami juga berkenalan dengan wanita-wanita OJT dari UI. Mereka adalah Lusi, Petty, dan Iif. Ketiga wanita ini ditempatkan di Penajam, beberapa kali kami naik kapal bareng. Dan juga 7 anak OJT dari STT Migas Balikpapan yang senasib, karena ditempatkan di Lawe-Lawe.

Oke, kembali ke topik. Secara garis besar KP kami minggu pertama masih banyak gabutnya. Cuma penjelasan materi, lalu sang pemateri kembali sibuk bekerja. Kami sudah mengunjungi proses, maintenance, lab, dan control room selama sepekan ini. Kami dijelaskan flow diagram pemisahan minyak secara umum. Mulai masuk Gross Separator, High-Pressure Separator, Low-Pressure Separator, Heat Exchanger, Hydrocyclone Unit, Dehydrator, CO2 removal, Gas Boot, Stabilizer, Waste Water Treatment, sampai akhirnya dijual ke Pertamina dalam bentuk crude oil. Namun sayangnya kami dilarang mengambil gambar sembarangan. Kandungan gas bisa berbahaya terhadap alat-alat elektronik, bisa menimbulkan kebakaran tiba-tiba.

Alat-alat itu tadi sebenarnya cuma punya satu tujuan, yaitu memisahkan crude oil, gas, dan BSW (Basic Sediment and Water). Itu saja yang dilakukan Chevron. Namun herannya kenapa Pertamina belum bisa ya? Miris lagi karena setiap perjalanan pulang kami selalu disuguhi pemandangan memprihatinkan. Selalu terlihat antrean mengular di pom bensin Lawe-Lawe. Padahal tak jauh dari situ kilang minyak berhamburan…

Dan sebagai bonus, di akhir pekan pertama ini saya dan Wahyu berkesempatan jalan-jalan dengan Yoel, Titi, Reny, dan Eneng, mahasiswi Teknik Lingkungan yang sedang KP di Pertamina Balikpapan. Icha nggak ikut, mungkin malu karena kalah cantik dengan wanita-wanita itu, haha.

Agrowisata, melihat beruang madu!

Agrowisata, melihat beruang madu!

Canopy Bridge

Canopy Bridge

  • Facebook

Oleh-Oleh dari Kuala Lumpur

April 30th, 2011 by puntadewa

Untuk yang belum pernah berkunjung ke Kuala Lumpur, buang jauh-jauh pikiran bahwa kota ini sama saja dengan Jakarta. Mantan ibukota negeri Malaysia ini, ternyata sudah jauh lebih maju dibanding kota-kota di Indonesia. Keputusan pemerintah memindahkan ibukota negara dari Kuala Lumpur ke Putrajaya setidaknya merupakan langkah tepat untuk mencegah ledakan populasi seperti di Jakarta. Itulah kesan pertama saya ketika jalan-jalan ke Kuala Lumpur, 8-11 April 2011 yang lalu.

Sebenarnya, tujuan utama saya mengunjungi Kuala Lumpur adalah untuk menyaksikan secara live para pembalap F1 beradu jet darat di sirkuit Sepang. Saya berangkat dari Bandung, dan ayah saya (yang juga doyan F1) berangkat dari Balikpapan. Kami berdua bertemu di LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Rupanya bandara Kuala Lumpur terbagi dua. Satu bernama LCCT, dan satunya lagi KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Mungkin mirip Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta yang terpisah cukup jauh, namun masih dalam satu komplek bandara. Berhubung saya yang dari Bandung naik maskapai AirAsia, begitu pula ayah saya yang dari Balikpapan, maka kami sama-sama mendarat di LCCT. Maklum, judulnya saja low cost. Kami memang sudah berburu tiket-tiket promo AirAsia jauh hari sebelum race dimulai. Bahkan karena mendapat early bird, kami mendapat potongan 50% untuk tiket F1 yang cukup mahal itu. Intinya, kami melakukan perjalanan yang murah-murah karena memang sudah direncanakan secara matang jauh hari.

Hari pertama tiba di KL, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang, hotel tempat kami menginap. Butuh sekitar 2 jam perjalanan dari bandara menuju hotel. Padahal, sirkuit Sepang sendiri terletak di dekat bandara. Rupanya sirkuit dan bandara diletakkan jauh sekali dari pusat kota. Barangkali untuk mencegah bising dan kemacetan di sekitar kota bila ada event besar semacam F1 atau MotoGP.

Ternyata KL cukup padat. Kemacetan, yang meskipun masih bisa ditolerir, terjadi di perjalanan menuju hotel. Namun sedikit berbeda dengan kota-kota di Indonesia, jarang sekali ditemui sepeda motor di sini. Kebanyakan orang bepergian dengan mobil atau kendaraan umum. Mungkin memang kota-kota di negara maju ditakdirkan untuk tidak bersepeda motor. Padahal di Indonesia, sepeda motor merupakan solusi ampuh untuk mengatasi macet, karena bisa nyelip-nyelip di antara mobil atau bahkan naik lewat trotoar. Dan jika bersenggolan dengan kendaraan yang lebih besar, sepeda motor selalu berada di pihak yang benar :-)

Oh, ternyata public transport di KL sudah sangat maju. Jauh melebihi busway di Jakarta, yang dahulu sebelum dibangun saja malah diprotes banyak pihak. Mungkin inilah sisi baik sistem kepemerintahan di Malaysia, yakni monarki konstitusional. Kalau sang raja mau apa, ya harus ditaati rakyatnya. Raja minta dibangun sirkuit besar, dibangunlah sirkuit Sepang. Raja minta monorail, dibangunlah monorail dalam kota. Berbeda dengan sistem demokrasi di sini. Pemimpin mau apa harus selalu dikaji bareng-bareng dan ujungnya malah tidak selesai-selesai (seperti pembangunan monorail di Jakarta). Memang benar sih, kedua sistem kepemerintahan itu punya sisi positif dan negatifnya. Namun saya pikir, baru Amerika saja yang berhasil menjalankan demokrasi yang benar (barangkali karena taraf hidup kita dan mereka berbeda jauh ya). Sisanya, negara-negara miskin lainnya, jika ingin bangkit ya memang masih memakai sistem kerajaan. Sudah sedikit terbukti dengan Malaysia yang merdeka sekitar sepuluh tahun setelah kita, kini sudah sepuluh langkah di depan kita. Jangan-jangan Thailand, atau bahkan Kamboja, segera  menyalip kita juga.

Oke, back to topic. Di KL, ada yang namanya KL Central. KL Central merupakan stasiun berbagai macam alat transportasi umum. Mulai dari bus, kereta dalam kota , kereta luar kota, monorail, singgah di stasiun terbesar di KL ini. Stasiun seperti ini memang syarat mutlak sebagai sarana transport yang murah bagi backpacker seperti saya. Karena tidak mungkin para turis pergi ke mana-mana naik taksi. Selain ongkosnya mahal, tidak ada kesan tersendiri jika naik taksi. Terlihat begitu mudah. Contohnya adalah akses menuju SIC (Sepang International Circuit). Dengan kereta kemudian disambung naik bus, pulang pergi hanya RM25 (paket khusus F1). Sedangkan jika naik taksi, sekali jalan RM120. Selain mahal, taksi pasti menjumpai macet yang tidak karuan karena puluhan ribu manusia memadati sirkuit, dan tidak sedikit yang naik kendaraan pribadi.

Tentunya saya tidak mau melewatkan begitu saja liburan di KL ini hanya untuk melihat F1. Di hari ke-dua, kami berangkat pagi-pagi untuk naik ke Twin Tower. Harus pagi benar untuk naik ke jembatan menara kembar yang menjadi simbol negara Malaysia ini. Antrean turis yang begitu panjang, membuat jam 9 pagi tiket sudah habis. Karena kami benar-benar niat, kami rela antre sekitar 2 jam untuk mendapatkan tiket.  Itu pun kami baru mendapat giliran naik 3 jam setelah mendapat tiket. Meskipun pada akhirnya ketika tiba di atas hanya untuk foto-foto, namun ini merupakan pengalaman pertama melihat KL dari ketinggian, cukup dengan RM10 per orang. Dan juga perjuangan setelah melewati proses antre berjam-jam.

Selepas dari Twin Tower, rencananya kami akan melihat babak kualifikasi F1. Namun karena jaraknya sangat jauh, kami sudah tidak sempat lagi karena menghabiskan terlalu lama di Twin Tower. Jadilah kami pergi ke menara lainnya, yaitu KL Tower. Jika Twin Tower merupakan gedung multifungsi, ada mall, hotel, maupun kantor, KL Tower merupakan menara khusus komunikasi yang sekaligus dijadikan objek wisata. Kami juga menyempatkan untuk naik ke puncak, kali ini dengan biaya yang agak mahal, yaitu RM38. Setibanya di puncak, setiap pengunjung diberi headset dan video player berukuran kecil, berfungsi sebagai tourguide maya ketika berada di atas. Menariknya lagi, di lantai dasar ternyata ada kebun binatang mini dan simulator F1. Tanpa berpikir panjang, setelah naik ke puncak kami berdua me turun untuk menjajal simulator F1 dan mampir ke kebun binatang mini untuk foto dengan burung kakatua.

Malam datang, kami pun tiba di hotel. Karena esoknya adalah raceday, saya meninggalkan ayah saya yang kelelahan di hotel sendiri dan mulai berburu pernak-pernik F1 di pasar terdekat. Tidak seperti yang saya duga, ternyata koleksi barang berbau F1 minim sekali. Setelah  perlahan-lahan saya selidiki, ternyata pasar di sini tidak berani menjual barang-barang bajakan. Berbeda ketika nonton pertandingan AFF Cup di Stadion GBK Jakarta. Pedagang tanpa malu-malu menjual atribut bajakan timnas Indonesia di segala penjuru.  Hah, Indonesia memang surga bagi barang bajakan.

Meskipun begitu, dengan berbagai macam trik negosiasi saya berhasil mendapatkan topi dan kaca mata Ferrari, tim jagoan saya. Pedagang yang saya ajak “nego” itu akhirnya mengeluarkan barang-barang dagangan bajakannya dari sebuah tempat rahasia, sembari celingak-celinguk kanan-kiri mengawasi ada pihak keamanan atau tidak. Ya, lagi-lagi saya harus menegaskan bahwa negeri ini sudah sepuluh langkah di depan kita. Salah satu tandanya yaitu menghargai hak milik orang lain. No piracy please, meskipun saya tetap nakal membeli barang bajakan di sana, hehehe.

Tiba di inti perjalanan saya, menonton F1. Bersyukur sekali karena kami membeli paket transportasi F1 yang murah itu, karena macetnya lalu lintas dalam kota. Pertama kami naik kereta dari KL Central, transit di Nilai, kemudian naik bus. Sepanjang sejam perjalanan di kereta, saya berdiri terus. Rupanya momen F1 menjadikan KL mendadak diwarnai orang-orang berkulit putih. Tak terkecuali kereta yang kami naiki itu.

Setibanya di Nilai, kami menyambung dengan bus. Buru-buru saya amankan satu tempat duduk karena lelah berdiri satu jam di kereta. Setibanya di sirkuit, terlihat antrean panjang mobil yang menanti tempat parkir yang sudah penuh itu. Di sinilah untungnya naik transportasi umum. Selain murah, tidak perlu mikir tempat parkir yang harganya mahal. Selain itu kami juga diantar ke dekat gate yang sudah dipesan. Kami membeli tiket di Gate F. Tempat ini adalah tempat nonton duduk yang termurah. Kami membeli seharga RM200 per kursi. Itu pun sudah dipotong 50% karena kami membeli tiket early bird.

Di sekitar sirkuit, sedikit sekali pedagang berkeliaran. Jangan disamakan dengan GBK ketika ada pertandingan Indonesia yang serba merah, di sini penonton tampak sangat sederhana mengenakan atribut F1. Mungkin karena terbatasnya barang bajakan, atau karena F1 bukan olahraga yang butuh suporter heboh seperti halnya sepak bola. Dan lagi-lagi tidak ada barang bajakan. Di sekitar sirkuit, hanya ada barang-barang orisinil yang harganya selangit. Beruntung saya sempat membeli atribut meski bajakan malam harinya.


Tiba di kursi penonton, kami merasa sangat beruntung membeli earplug sebelum masuk tadi. Biarpun untuk ukuran dua buah busa penyumbat telinga itu harganya cukup mahal, namun telinga kita jauh lebih mahal harganya. Bising yang dihasilkan deru mesin F1 benar-benar memekakkan telinga. Bahkan bising jet darat ini saya rasa mengalahkan suara pesawat terbang sekalipun. Begitu mobil pertama melintas, sensasi itu baru terasa. Dua anak kecil yang menonton pun teriak-teriak sambil menutup lubang telinganya yang tanpa penyumbat itu. Orang tuanya panik dan akhirnya keluar sebentar untuk membelikan earplug ketika balapan sedang seru-serunya.

Satu lagi alat yang sangat berguna ketika menonton F1 adalah teropong. Sebelum berangkat kami sempat berdiskusi mengenai barang-barang apa saja yang sebaiknya dibawa. Saya meminta teropong, yang terbukti sangat berguna. Menonton F1 sangat berbeda dengan menonton pertandingan sepakbola. Tidak semua kejadian yang terjadi di atas trek dapat dilihat. Bahkan siapa pemimpin balapan pun tidak diketahui. Dengan teropong, kami bisa melihat layar yang menampilkan posisi para pembalap dari kejauhan. Mungkin karena bosan, tidak paham siapa pemimpin balapannya, dan siapa menyalip siapa, penonton di samping saya yang nampaknya keturunan India tertidur pulas. Setelah menyumbat telinganya, dan bersorak-sorai karena mobil Force India melintas, dia terlelap. Teman-teman di sebelahnya mainan HP dan malah sibuk sendiri tanpa mempedulikan balapan.

Sebenarnya balapan sore itu cukup seru. Karena tidak melihat televisi, saya kebingungan mengapa pembalap melakukan pitstop berulang kali. Rupanya cuaca tropis di sirkuit membuat ban para pembalap cepat aus. Saya sangat berharap cuaca mendung saat itu berubah menjadi hujan. Karena jelas akan sangat merepotkan pembalap, dan membuat balapan menjadi seperti lotere. Tidak bisa ditebak siapa pemenangnya. Namun hingga balapan berakhir cuaca tetap hanya sekedar mendung, di luar prediksi yang mengatakan hujan akan menghiasi balapan hari itu. Meskipun kata orang yang menonton di televisi balapan itu diwarnai beberapa overtaking, namun kami tidak beruntung karena menyaksikan dari Gate F, yang ternyata cuma sekali saya melihat mobil saling menyalip.

Selesai balapan kami mengobrol dengan salah satu orang Indonesia di sana. Ternyata beliau mengikuti secara lengkap balapan pekan itu. Mulai dari free practice hari Jumat, qualifying hari Sabtu, dan race hari Minggu. Memang semua penonton memiliki paket tiket untuk  tiga hari itu. Namun karena baru tiba hari Jumat malam, dan menghabiskan Sabtu di  kota, kami hanya menonton inti balapan di hari Minggu. Dan kata orang itu, untuk hari Jumat saja para penonton bebas untuk masuk ke pitstop pembalap. Melihat para mekanik bekerja, dan merasakan sensasi bising yang jauh lebih besar. Dalam hati sedikit menyesal, karena mungkin saya bisa berfoto dengan para pembalap juga hari Jumat itu. Ah, tetapi tak apalah. Dengan RM200 saya dapat melihat lima orang juara dunia F1 melintas tepat di depan mata saya. Michael Schumacher, Fernando Alonso, Lewis Hamilton, Jenson Button, dan yang terakhir, Sebastian Vettel, sang juara balapan kali ini.

  • Facebook

Mengenal Lebih Dekat dengan Piton

April 3rd, 2011 by puntadewa

Wild Day, atau hari liar, merupakan nama acara yang digagas oleh Divisi Kekeluargaan Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik ITB. Acara ini bertujuan mengakrabkan seluruh anggota himpunan. Sekaligus untuk mencari suasana baru, yaitu kebun binatang. Memang selama kuliah di ITB, belum pernah sekalipun saya mengunjungi kebun binatang yang letaknya hanya beberapa meter dari kampus. Dan sepertinya bukan cuma saya, namun sebagian besar orang yang ikut pada acara hari itu juga senasib seperti saya.

Ular menjadi incaran utama saya ketika tiba di kebun binatang. Hewan favorit saya ketika menonton acara National Geographic, atau apalah acara satwa lainnya ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain spesiesnya yang beragam, atau kulitnya yang warna-warni, ular memiliki bermacam variasi dalam berburu mangsanya. Puas sekali jika dapat menyaksikan langsung seekor ular yang sedang menyantap mangsa. Atau minimal melihat dari televisi.

Namun saya sangat takut jika menyentuh kulit ular. Lendir-lendir yang tampak mengkilat, ditambah badan yang kenyal, membuat saya semakin ngeri. Apalagi saya acapkali menjumpai ular liar di sekitar rumah. Hmmm, mungkin ini salah satu motivasi saya untuk lebih dekat dengan ular.

Setelah berputar-putar nyaris 2 jam, melihat kadal kawin, dan mendapat kabar bahwa Adjie ditampar belalai gajah, akhirnya bertemulah kami dengan pawang ular piton. Beliau selalu mengalungkan ular piton jinak tersebut di lehernya, yang memang sengaja untuk difoto dengan pengunjung. Dengan segenap keberanian, saya meminta tolong Naila, sang tukang foto adik angkatan saya untuk mengambil gambar saya dengan piton.

Begitu sang ular dikalungkan ke leher saya, jantung berdegup semakin kencang. Apalagi bagian kepala piton itu sulit sekali dicengkram. Senakin kuat cengkraman, kepala ular tersebut semakin sering menggeliat. Sambil sesekali menjulurkan lidahnya yang tipis itu. Bau ular piton juga tidak enak. Dengan posisi sedekat itu, bau busuknya semakin tercium. Siang yang terik, plus rasa takut luar biasa, bau busuk bercampur keringat dingin saya menambah seru perkenalan dengan piton hari itu. Rasanya ingin cepat-cepat menyelesaikan sesi foto-foto dengan piton.

Dan benar, dari sekian jepretan, ekspresi muka saya benar-benar aneh. Cuma satu foto yang tampak santai, seolah berfoto dengan ular mainan (meskipun masih sedikit maksa). Selama pengambilan gambar sebenarnya saya merasa sangat takut dengan kuku-kuku kecil di tubuh bagian bawah piton. Seperti ada tulang yang menonjol sedikit sekali, dan menggaruk-garuk kulit saya. Mungkin ini karena ular berjalan dengan tubuhnya, sehingga diperlukan tulang-tulang kecil untuk menambah gaya gesek.

Huh, setelah sesi foto-foto berakhir, segera saya panggil pawang untuk menjauhkan si piton bau tersebut dari tubuh saya. Cukup dengan Rp5.000,- (atau seikhlasnya), saya bisa mendapat foto dengan piton, salah satu ular tak berbisa namun sangat mematikan.

  • Facebook

Paper Akustik

March 29th, 2011 by puntadewa

Selesai juga akhirnya tugas makalah (paper) mata kuliah akustik. Tercatat pukul 3 dini hari saya baru bisa menyelesaikan sekaligus mengirimkan e-mail ke dosen. Ini merupakan paper pertama yang berhasil saya buat dengan sepenuh hati (sebelum-sebelumnya cuma kopas tanpa dimengerti). Walaupun saya sebenarnya tidak begitu memiliki passion di bidang akustik, namun tugas paper yang dijadikan nilai UTS ini ternyata bisa memunculkan sedikit keasyikan tersendiri. Kenapa? Karena pada mata kuliah ini sedikit sekali dijumpai rumus-rumus yang biasa membuat kepala pusing. Tanpa melepaskan aspek engineering-nya, akustik menjadi salah satu ciri khas teknik fisika yang jarang dimiliki jurusan-jurusan lain.

Karena pengorbanan yang telah saya berikan demi paper ini, maka sudah saatnyalah dunia mengetahui apa yang saya kerjakan. Untuk itu saya berikan link untuk mengunduh makalah saya, sebagai bahan referensi ilmu akustik selanjutnya. Saya tunggu kritik dan sarannya, terima kasih…

Analisis Parameter Akustik pada Jalan Layang Pasupati, Bandung

Download

Abstrak Makalah ini membahas analisis temporal, spektral, dan spasial dari kendaraan bermotor yang melewati jalan layang Pasupati, Bandung. Analisis temporal berupa durasi efektif fungsi autokorelasi (τe) dan Sound Pressure Level (SPL). Analisis spektral berupa pitch dan timbre, sedangkan analisis spasial berupa Inter-Aural Cross Correlation (IACC). Ketiga jenis analisis ini diambil untuk mewakili masing-masing karakteristik akustik sebuah suara, yakni temporal, spektral, dan spasial.

Kata Kunci: temporal, spektral, spasial, durasi efektif, SPL, pitch, timbre, IACC, akustik, pasupati.

  • Facebook