From Bandung to Jogja (with love) + Green Canyon!

19 Jun 2010

View Larger Map

Siang itu, Jumat 28 Mei 2010 merupakan hari yang cukup bersejarah buat seorang kawan saya bernama Widi. Setelah berwacana selama berbulan-bulan, akhirnya bubuhan Balikpapan berhasil meluncur ke Green Canyon. Green Canyon merupakan sebuah objek wisata yang berlokasi sekitar 30 menit berjalan dengan mobil dari Pantai Pangandaran. Perjalanan dari Bandung sendiri, menurut google maps membutuhkan 4 jam dengan mobil.

Kami berangkat mulai pukul 2 siang sehabis sholat Jumat. Karena berbagai macam alasan keterlambatan, pemberangkatan terpaksa tertunda hingga jam 4 sore. Membuat kami pada malam harinya terpaksa betah berlama-lama di dalam mobil. Rute menuju Pangandaran memang cukup berat karena salah satu di antara kami belum pernah ada yang ke sana. Apalagi tempat yang namanya Green Canyon, kami hanya tahu dari referensi teman-teman yang sudah pernah ke sana. Dengan modal sebuah peta Jawa Barat, dan GPS seadanya, tibalah kami di Tasikmalaya. Di kota kecil ini kami sempatkan untuk istirahat sholat maghrib. Jalanan gelap yang diguyur hujan plus padatnya kendaraan membuat kami harus segera istirahat untuk menyantap makan malam. Itu berarti tebakan google maps akan meleset jauh, karena di situ tidak ada perkiraan akan macet.

Setelah makan, pergantian shift supir dimulai. Irfan yang sudah kelelahan digantikan oleh saya, yang masih fit terutama setelah diisi dengan seporsi makan malam. Saya sempat kewalahan karena baru pertama kali menginjak pedal gas mobil APV yang kami sewa. Mobil 1500 cc itu memang agak berat ketika pertama kali start. Terlebih lagi mobil itu kadang-kadang giginya tidak masuk secara sempurna. Cukup membuat repot ketika akan mendahului kendaraan di depannya. Akhirnya perjalanan yang sebenarnya baru dimulai.

Jam 10 malam kami tiba di Banjar, artinya sekitar sejam lagi tiba di Pangandaran. Atau dengan kata lain kami akan terlalu “pagi” tiba di Green Canyon. Tipisnya dompet mahasiswa membuat kami harus memutar otak untuk menentukan di mana kami akan bermalam. Sebagian awak mengusulkan agar tidur di masjid saja, sebagai upaya penghematan. Namun karena badan pilot dan ko-pilot (saya dan Irfan, red) yang belum merasakan nikmatnya tidur sejak berangkat, kami harus berpikir dua kali untuk menghabiskan malam itu di masjid. Perdebatan yang ini belum tuntas, muncul satu perdebatan yang ternyata justru akan membuat perjalanan ini akan dikenang seumur hidup :-P

Dari awalnya tujuan kami ke Pangandaran, lanjut Green Canyon, kini mulai berubah haluan. Ini semua karena papan penunjuk jalan yang menggoda kami untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja. Kisahnya, di sebuah pertigaan penentu nasib saya melihat jalan lurus menuju Purwokerto dan jalan ke kanan menuju Pangandaran. Wah, sebagai supir saya tentu harus segera ambil keputusan. Dan ternyata pilihan saya adalah terus! (lho, mau ke mana kita ini tho??). Beberapa meter dari pertigaan itu untungnya ada sebuah pom bensin. Saya sempatkan untuk mampir dan berdiskusi dengan seluruh awak perjalanan. Dengan berbagai ide gila, apalagi Gilang yang selalu mendesak agar diteruskan saja ke Jogja karena setelah diketahui ternyata dia sama sekali belum pernah menginjak tanah Jogja selama kuliah di Bandung, kami pun memulai konferensi pom bensin itu. Dengan segala estimasi biaya, deadline sewa mobil, lama perjalanan, dan energi minimum yang dibutuhkan, seorang pakar matematika Muhammad Hanif menyimpulkan bahwa perjalanan rute Bandung-Jogja-Pangandaran-Green Canyon-Bandung adalah sangat mungkin terlaksana dalam tempo 2×24 jam dengan satu supir dan satu pemain cadangan. And the story goes…

Perjalanan panjang itu dipastikan oleh Ridho yang dengan ponsel ber-GPS-nya menjamin bahwa kami berjalan di jalur yang benar. Widi dengan cekatan sudah mengirim sms ke berbagai makhluk yang ada di Jogja. Dan dalam waktu sekejap tersebarlah undangan bahwa kami akan sesegera mungkin tiba di Jogja. Pukul 3 dini hari, setelah melewati perjalanan melelahkan akhirnya Gilang untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya menginjak kota yang terkenal dengan gudegnya itu. Rencana kami, tim akan dibagi dalam dua regu, regu pertama istirahat di kost Atma dan regu kedua di kost Dyan. Formasi ini sengaja dipilih karena kost keduanya berjarak tidak terlalu jauh. Karena masih terlalu pagi, keduanya tentu belum bangun. Terlebih setelah ratusan kali ditelepon tetap saja Atma dan Dyan tidak bergeming dari mimpi indahnya. Terpaksa kami meluruskan badan di masjid terdekat. Sambil menunggu adzan subuh, kami sempatkan mengisi perut dulu di warung 24 jam a.k.a. burjo.

Tiba-tiba saya sadar sekitar pukul 7 pagi di atas sajadah masjid sambil melihat remang-remang sesosok Dyan. Setelah semua bangun, berlanjutlah kami menuju Pantai Siung dan Pantai Sundak. Karena proyek Dyan merakit robot di kampusnya tidak dapat ditinggalkan, maka dia tidak ikut rombongan kali ini. Namun, sebagai gantinya ada Niken sang bidadari turun dari khayangan yang hadir meramaikan mobil kami. Setidaknya itulah kesan pertama, karena bau wanginya cukup membuat seisi mobil bergairah kembali. Pantai ini, bersama pantai Sundak memang masih terlihat sepi. Kedua pantai selatan ini tidak setenar Pantai Parangtritis, tetapi menurut saya kualitasnya jauh lebih baik.

Penampakan Pantai Siung:

Penampakan Pantai Sundak:

Selesai berjalan-jalan di dua pantai yang kurang terkenal namun memiliki pemandangan yang sangat eksotis itu, tujuan selanjutnya sudah jelas: tidur! Kelelahan selama perjalanan cukup terbayar, meski belum tuntas, di kamar kost Dyan yang selonjor saja harus berpikir dua kali. Tampaknya sahabat saya satu ini betah-betah saja punya kamar minimalis seperti itu. Ya, setidaknya para turis dari Bandung bisa mandi dan memejamkan mata dengan tenang. Kami memang harus cukup beristirahat, karena malamnya sudah harus pergi lagi menuju Green Canyon yang diperkirakan bakal ditempuh selama 8 jam perjalanan.

Benar saja, nyaris 8 jam suasana dalam mobil begitu hening. Hanya tersisa pilot dan ko-pilotnya. Itupun saling berbagi jatah tidur. Hingga pada giliran saya menyetir, kami nyaris tiba di Tegal pagi harinya, karena mobil ternyata bergerak ke utara, bukan ke selatan seperti yang diharapkan. Untung saja belum terlalu jauh kami tersadar dan akhirnya mobil terpaksa putar balik ke arah selatan. Sebelum tiba di Pantai Pangandaran, ternyata adzan subuh sudah dekat. Tanpa pikir panjang, dan karena dilanda kelelahan sangat hebat, langsung saja mobil saya parkir di halaman masjid. Tepat setelah sholat subuh selesai saya bergegas ke dalam mobil, merendahkan sandaran kursi, dan groook…

Saya baru sadarkan diri setelah sinar matahari sudah cukup menyilaukan mata, sekitar pukul 8 pagi. Perjalanan yang sudah tidak terlalu jauh kini dimulai lagi. Di Pantai Pangandaran kami tidak sempat berhenti, karena padatnya manusia dan kami kebingungan mencari letak Green Canyon, tujuan utama ketika akan berangkat dari Bandung. Kami pun mulai celingukan, sambil membanding-bandingkan kualitas Pantai Pangandaran yang terlihat jauh lebih jorok dibanding dua pantai yang kami kunjungi di Jogja kemarin. Setelah menyisir Pantai Pangandaran dengan mobil, kami akhirnya memutuskan untuk bertanya saja pada baywatch di sana. Setelah cukup memahami instruksinya, kami meninggalkan Pantai Pangandaran menuju Green Canyon. Dan bodohnya tidak ada yang sempat untuk sekedar berfoto di pantai ini. Hmmmm… mungkin sudah terlau ngebet ingin cepat tiba di tujuan utama.

Kami harus cukup siap bahwa ternyata untuk saat itu Green Canyon sementara waktu berubah nama menjadi Brown Canyon. Sepanjang perjalanan, perasaan kami memang sudah cukup cemas karena sungai-sungai yang kami lewati berair keruh. Karena hujan deras yang melanda daerah sekitar beberapa hari terakhir, maka air di Green Canyon berubah cokelat karena lumpur yang terlarut. Butuh waktu kira-kira seminggu untuk mengembalikan air hijaunya, ujar salah seorang pengunjung yang sudah berkali-kali ke tempat ini. Namun itu ternyata lebih baik karena pengunjung pada hari itu masih diizinkan untuk menyusuri sungai tersebut dengan ketinting. Kemarinnya, objek wisata ini sempat ditutup karena air yang meluap. Syukurlah, karena ternyata mobil kami digerakkan ke Jogja terlebih dahulu.

Biaya untuk menyewa sebuah ketinting adalah Rp75.000,- dengan kapasitas maksimal 5 orang. Namun kami yang beranggotakan 6 orang tetap diizinkan naik sekali jalan, sehingga total ada 8 orang ada di ketinting itu termasuk awak kapal. Di perjalanan ini terlihat tebing tinggi yang indah menjulang di kanan kiri sungai. Mungkin akan lebih indah lagi ketika airnya berwarna hijau. Setelah sampai di tempat pemberhentian terakhir, kami diizinkan berenang menggunakan pelampung yang telah disediakan. Arus sungai di sini sangat deras, cukup membuat Ridho dan Gilang terseret arus hingga beberapa meter jauhnya. Saya, Hanif, dan Irfan juga harus berusaha dengan keras untuk sekedar berfoto di atas karang yang tinggi. Sedangkan Widi tidak beranjak dari ketinting dan dengan sangat terampil mengambil gambar pemandangan sekitar. Setelah sekitar 30 menit berenang dalam arus yang kuat, saya pun mulai bersin-bersin. Indikator bahwa tubuh mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Kami beranjak, mengeringkan badan di ketinting, dan segera mengenakan pakaian.

Beberapa pemandangan Green Canyon yang sempat dijepret:

Sebelum benar-benar pulang ke Bandung, kami sempatkan mampir di Pantai Batu Karas yang letaknya tidak jauh dari Green Canyon. Tetapi malangnya, ban kiri belakang mobil tiba-tiba pecah, membuat jadwal tertunda sekitar sejam. Kemudian datang orang berbaik hati membantu kami mengganti dengan ban cadangan. Semua beres, dan kami lanjut menuju ke Pantai Batu Karas. Di sini kami hanya sempat main air dan mengambil beberapa gambar karena hari semakin sore.

Ban pecah:

Jump and fly! Batu Karas:

Perjalanan yang mendekati akhir ini diwarnai dengan mencoba-coba jalan pulang ke Bandung dengan rute baru. Saya terlelap di belakang, Irfan menyetir dengan Hanif sebagai penunjuk jalan. Jalan yang kami lewati ini benar-benar menantang, karena selain sempit dan rusak, jalan ini menanjak dan berkelok-kelok. Tercatat sudah berkali-kali Hanif bertanya ke penduduk sekitar karena tak tau arah, dan sekali ubun-ubun saya dan Widi mencium atap mobil. Jalan baru mulai menemukan titik terang ketika mendekati Tasikmalaya. Ditandai dengan sholat maghrib di masjid yang cukup megah walaupun letaknya di pinggir sawah. Macet hebat teryata kami jumpai di Nagrek, mobil tertahan cukup lama di tanjakan. Saat itu juga ibu saya menelepon. Karena sedang konsentrasi penuh menahan kopling, saya tidak angkat panggilan itu. Belakangan diketahui ternyata saat itu terjadi kecelakaan di Nagrek. Pantas saja jalanan macet dan banyak mobil menepi.

Tiba di Bandung pukul 11 malam, dan kami harus siap membayar denda mobil karena melewati batas waktu selama setengah hari. Perjalanan ini ditutup dengan makan malam bersama di simpang Dago sambil isi ulang dompet di ATM terdekat. Meski sangat melelahkan, namun saya mencatat rekor baru. Sesibuk-sibuknya kuliah, sebanyak-banyaknya PR, sesulit-sulitnya ujian, belum pernah saya cuma tidur 6 jam dalam 2 hari. Really a great journey!


TAGS green canyon pangandaran sundak siung


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post